AutoCrop

AutoCrop: Tool untuk meecah file .shp hasil digitasi menjadi file-file per satuan wilayah yang lebih kecil. Terdapat dua versi aplikasi, AutoCrop BS version dan AutoCrop Desa version. Aplikasi ini bisa membantu mempercepat pekerjaan memecah file hasil digitasi secara cepat hanya dengan sekali klik.

AutoCrop BS version
Memecah file .shp hasil digitasi berdasarkan Blok Sensus
Input: Sebuah file .shp Kecamatan by BS atau Kabupaten by BS atau Provinsi by BS
Output: – File-file .shp untuk setiap BS (1 BS 1 file .shp)
            – File-file .shp Desa by BS (1 Desa 1 file .shp yg isinya polygon2 BS)
            – File-file .shp Kecamatan by BS (1 Kec. 1 file .shp yg isinya polygon2 BS)

AutoCrop Desa version
Memecah file .shp hasil digitasi berdasarkan Desa
Input: Sebuah file .shp Kabupaten by Desa atau Provinsi by Desa
Output: – File-file .shp untuk setiap Desa (1 Desa 1 file .shp)
            – File-file .shp Kec by Desa (1 Kec. 1 file .shp berisi polygon2 Desa)

System Requirement:
- .NET Framework 2.0

Aplikasi bisa di download pada link dibawah ini.
Source code aplikasi bisa didownload secara terpisah. Ditulis dengan bahasa pemrograman C# dan platform .NET Framework 2.0. Lisensi: GNU General Public License (GPL) version 3.

Download link
File executable AutoCrop.exe
http://cid-51560efc347e2736.skydrive.live.com/self.aspx/AutoCrop/AutoCrop%20exe.zip

Source Code AutoCrop.exe
http://cid-51560efc347e2736.skydrive.live.com/self.aspx/AutoCrop/AutoCrop%20src.zip

Komentar (26)

Perjalanan Zaitun Time Series menuju APICTA 2009 Melbourne (Part 3: APICTA di Melbourne)

Rombongan kedua delegasi Indonesia berangkat dari Jakarta Hari minggu malam jam 22.00 WIB dengan pesawat Garuda Indonesia tujuan Jakarta-Melbourne. Saya berangkat bersama rombongan dari kategori student beserta delegasi juri. Perjalanan Jakarta-Melbourne ditempuh dalam waktu kurang lebih 6 jam.

Setelah kurang lebih 6 jam di pesawat, kami tiba di bandara Tullamarine, Melbourne. Hari Senin, 14 Desember 2009 sekitar jam 09.00 pagi waktu Melbourne kami tiba. Melbourne 4 jam lebih cepat dari Jakarta. Setelah melalui administrasi di bandara (pengambilan bagasi, pengecekan dari imigrasi, dll) kami diantar oleh perwakilan dari pihak travel agent menuju ke hotel tempat kami menginap, Travelodge Southbank Hotel. Sekitar jam 10.00 kami tiba di hotel. Lokasi Travelodge Southbank Hotel sangat strategis, dekat dengan pusat kota Melbourne dan sungai yang melalui kota Melbourne, Yarra River.

100_1330 Travelodge Southbank Hotel

Map picture

Lokasi Travelodge Southbank Hotel

Selanjutnya kami check-in ke kamar masing-masing untuk istirahat sejenak, mandi, dll. Setelah selesai mandi, dan istirahat sejenak, pertama yang kami lakukan adalah membeli power outlet converter, karena ternyata colokan listrik di Melbourne berbeda dengan di Indonesia. Kami disarankan oleh temen-temen yang datang duluan utnuk membeli di toko “7 eleven” di samping hotel. Setelah kami tanyakan ke toko, ternyata harganya 11 dolar Australia (1 AUD kira2 = Rp 8.500,-). Begitu dengar harganya, di otak kami langsung memproses mengkonversi ke rupiah. Sempet kaget, mahal bener, colokan listrik aja 90rb rupiah. Tapi apa mau dikata, terpaksa kami beli juga. hehe.

Setelah itu kami sholat dzuhur dan mencari makan. Berdasarkan info dari teman gelombang pertama yang sudah sampai duluan, banyak rumah makan di sekitar depan Flinders Street Station. Tinggal jalan dikit menuju kesana. Kami pun segera hunting makanan. Untuk ke Flinders Street Station kami harus menyeberangi sungai Yarra. Ada jembatan kecil bagi pejalan kaki yang  melintang di sungai itu. Kami segera menuju ke TKP.

Map picture

Jembatan Yarra River

100_1368Sebelum nyebrang jembatan. :)

Didepan Flinders Street Station memang terdapat rumah makan, tapi rata-rata masakan fast food seperti KFC. Ternyata tidak ada nasi di rumah makan itu. Makanan utamanya cuma burger dan ayam. Akhirnya saya memilih untuk memesan kentang goreng (French Fries) dan minum coke seharga 3.5 dolar.

Map picture

Flinders Street Station

100_1347
Didepan Flinders Street Station sehabis makan.

Setelah selesai makan, kami dikumpulkan oleh juri Indonesia untuk bersama-sama menengok lokasi penjuriannya, yaitu di Crown Promenade Hotel. Lokasinya tidak jauh dari tempat kami menginap. Hanya butuh jalan kaki kurang lebih 15 menit untuk sampai kesitu. Di Crown Promenade Hotel semua delegasi Indonesia melakukan registrasi secara bersama. Setelah registrasi, kami semua balik lagi ke Travelodge untuk mempersiapkan presentasi keesokan harinya. Saya sendiri mendapatkan jatah presentasi hari Selasa 15 Desember 2009 pukul 14.15. Setelah sampai di Travelodge, rata2 kami langsung pada istirahat, karena masih merasa kecapekan.

Map picture

Crown Promenade Hotel

Oh ya, di Melbourne saat itu lagi musim panas. Matahari bersinar lebih lama daripada di daerah tropis. Jam 8 malam, matahari masih bersinar. Waktu maghrib sekitar jam 9 malam, isya sekitar jam setengah 11 malam.

Setelah beristirahat sejenak, mandi, dll, saya dan beberapa teman mencari makan siang. Targetnya adalah mencari rumah makan yang menjual nasi. Maklum perut orang Indonesia belum familier dengan burger. Setelah jalan kaki beberapa ratus meter dari Flinders Street Station, kami menemukan sebuah restauran Malaysia. Kami setuju untuk makan disini. Alhamdulillah bisa makan nasi lagi. :) Di sini saya pesan nasi goreng vegetarian. Sepulang dari makan, kami berpisah untuk masing-masing mempersiapkan diri untuk keesokan harinya presentasi didepan dewan juri.

Hari kedua di Melbourne. Saya baru berangkat ke tempat penjurian sekitar jam 11, karena waktu presentasi saya baru jam 2.15. Sampai di tempat penjuian, sudah banyak teman yang berkumpul disitu. Saya bertanya kepada teman yang sudah terlebih dahulu presentasi. Kata dia presentasinya enak kok. kaya INAICTA.

Satu jam sebelum presentasi kami diwajibkan registrasi terlebih dahulu. Setelah itu peserta bisa mengetes peralatannya (laptop) pada Viewer yang telah disediakan panitia. Setelah itu peserta diminta menunggu di ruang tunggu, sebelum nantinya dipanggil untuk presentasi. Deg-deg an juga waktu di ruang tunggu, gimana nanti presentasinya ya. Untuk mengurangi rasa deg-deg an, saya coba mereview kembali materi presentasinya. Oh ya. materi presentasinya dalam bentuk flash presentation yang dibuat oleh Suryono Hadi Wibowo.

100_1500 Di ruang tunggu

Akhirnya waktu presentasi tiba. Kami diantar panitia ke ruang penjurian. Setelah sedikit men-setup laptop, presentasi di mulai. “Dear judges, Thank you for the opportunity bla bla bla bla…. “. Alhamdulillah, dengan kemampuan English yang pas-pasan, presentasi berjalan lancar. Selanjutnya sesi tanya jawab. Tanggapan dari juri cukup baik. Ada beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh juri, diantaranya tentang uniqueness dan business model. Alhamdulillah semuanya bisa dijawab. Setelah sesi tanya jawab, juri mengajak kami foto bersama. "Thank you very much…”, ucap kami sembari meninggalkan ruangan penjurian.

 100_1372
Foto setelah penjurian

Setelah selesai, kami segera kembali ke Tavelodge untuk beristirahat, karena sorenya ada acara pembukaan Asia Pacific Digital innovation Summit (APDIS) di Melbourne Aquarium.

Map picture

Melbourne Aquarium

Untuk masalah komunikasi, saya memutuskan untuk membeli kartu perdana GSM di Melbourne. Walaupun kartu Telkomsel masih bisa aktif, tapi biaya roaming nya sangat mahal. Selain itu saya juga membutuhkan komunikasi dengan dua nomor hp lokal Melbourne, yaitu dengan mas Joko Parmiyanto yang lagi kuliah di Melborne University dan Mr. Joe Kenyon, pengguna Zaitun Time Series asal Melbourne yang membantu menyempurnakan manual Zaitun Time Series bahasa Inggris. Mumpung ada di Melbourne, saya ingin menyempatkan untuk bertemu dengan dua orang tersebut. Setelah dihubungi, saya janjian bertemu mas Joko hari Kamis, karena dia sedang sibuk menyiapkan wisudanya. Saya juga janjian untuk makan malam besama Mr. Joe Kenyon hari Rabu.Namun, hari Rabu siang Mr Joe Kenyon menghubungi saya. Dia mengabarkan kalau dia lagi sakit dan tidak bisa bertemu malam ini. Sayang sekali, padahal saya pengen banget bertemu dengannya.

Hari Kamis pagi, kami memutuskan untuk pergi ke Victoria market untuk mencari oleh-oleh, karena besok pagi kami sudah harus balik ke Indonesia. Disana kami bertemu dengan mas Joko beserta istri dan anaknya. Istri mas Joko bekerja menunggu salah satu loket di pasar. Kami selanjutnya membeli beberapa souvenir khas Australia. Ternyata sebagian besar souvenir khas Australia bertuliskan Made in China. Memang China rajanya bikin barang murah dan “home industry”.

Map picture

Victoria Market

100_1562 
Bareng mas joko di Victoria Market

Setelah selesai belanja, saya diajak mas joko untuk sedikit berkeliling kota Melbourne sampai sore. Saya diajak untuk naik tram dan train berkeliling kota Melbourne. Setelah itu diajak makan bareng di salah satu restoran Indonesia di Melbourne, namanya blokM Express. Setelah selesai makan, saya balik ke Travelodge untuk siap-siap mengikuti malam “gala dinner’. Saat itulah juara APICTA diumumkan.

100_1585Di Southern Cross Station

Sebelum berangkat ke acara “gala dinner”, kami dikumpulkan oleh panita Indonesia dan kami berangkat bersama. Lokasi “gala dinner” berada di ruang Paladium kompleks gedung Crown Casino.

Map picture

Crown Casino Complex

Acara dimulai dengan sambutan dan hiburan-hiburan musik, diselingi dengan makan malam. Selanjutnya baru diumumkan pemenang APICTA. Satu per satu pemenang tiap kategori di umumkan, mulai dari kelompok professional. Sayangnya tidak ada satupun peserta dari Indonesia menjadi juara di kelompok professional. Selanjutnya diumumkan untuk kelompok student project. Ada 4 karya dari Indonesia yang mendapat award Merit pada 2 kategori, secondary dan tertiary student project. Ya paling gak ada wakil Indonesia yangh maju ke depan.

100_1604 Gala Dinner. Ga ada tempe. hehe

Setelah selesai acara “gala dinner” kami segera balik ke Travelodge untuk packing-packing barang kami. Maklum, besok paginya, pagi-pagi harus segera ke Bandara.

Jum’at pagi setelah makan pagi, kami segera pergi ke bandara menggunakan bus yang telah disewa. Kira-kira jam 8 pagi kami kami tiba di bandara. Kami kembali ke Indonesia menumpang pesawat garuda Indonesia jurusan Melbourne-Denpasar-Jakarta. Jadi kami transit dulu di Denpasar. Jam 10.55 pesawat berangkat dari Melbourne. Pesawat baru tiba di jakarta sekitar jam 17.00 WIB. Alhamdulillah kami semua tiba kembali di Jakarta dengan selamat.

Kami, Zaitun Time Series Developer Team menyadari bahwa semua yang telah kami capai ini bukan akhir dari perjuangan, tetapi merupakan langkah awal untuk lebih mengembangkan aplikasi ini ke depan. Masih banyak yang harus dilakukan dan masih panjang jalan kami. Doakan ya.. :)

 

Rizal Zaini Ahmad Fathony
Zaitun Time Series Developer Team

Komentar (4)

Perjalanan Zaitun Time Series menuju APICTA 2009 Melbourne (Part 2: Perjuangan Menuju APICTA)

29 Juli 2009, Zaitun Time Series dinobatkan sebagai winner kategori Research and Development Indonesia ICT Award 2009. Kami sangat bahagia dengan pencapaian yang tidak kami duga sebelumnya ini. Berdasarkan informasi sebelumnya dari Menkominfo, juara INAICTA berpeluang untuk mewakili Indonesia pada ajang yang lebih besar, yaitu Asia Pacific ICT Award (APICTA). Namun belum dapat dipastikan apakah Zaitun Time Series juga akan diikutkan atau tidak. Menurut informasi dari media, ketidakpastian ini terkait dengan pergantian kabinet pada Oktober 2009.

Sampai sekitar bulan Oktober 2009, kepastian ikut tidaknya Zaitun Time Series pada APICTA 2009 masih belum jelas. Namun demikian, menyadari bahwa jika Zaitun Time Series jadi diikutkan ke APICTA, perlu ijin dan dukungan  dari instansi tempat kami bekerja (BPS), kami berinisiatif untuk mengkomunikasikan hal ini ke pimpinan BPS, dalam hal ini Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik, Bp Dr. Sihar Lumbantobing melalui email. Alhamdulillah tanggapan dari pimpinan BPS sangat bagus dan mendukung langkah kami.

Tanggal 23 Oktober 2009, kami mendapatkan email dari Asosiasi Piranti Lunak Telematika Indonesia (ASPILUKI), anggota Asia Pacific ICT Alliance untuk Indonesia yang memberitahukan bahwa karya cipta Zaitun Time Series telah dinyatakan sebagai karya cipta Peranti Lunak Nasional yang berhak untuk mewakili Indonesia pada kompetisi APICTA – Internasional di Melbourne, Australia pada 14 – 17 Desember 2009. Pihak ASPILUKI juga menanyakan tentang kesediaan kami. Kami senang mendapatkan pemberitahuan ini dan langsung menyatakan bersedia.

Akhirnya, tanggal 3 November 2009, kami mendapatkan undangan dari ASPILUKI untuk menghadiri 2 (dua) kali briefing dan 1 (satu) kali boot camp sebagai persiapan menuju APICTA Award 2009. Briefing tahap 1 dilaksanakan tanggal 5 Nvember 2009, briefing tahap 2 dilaksanakan tanggal 10 November 2009. Bootcamp yang merupakan pembekalan mengenai bagaimana mempresentasikan karya di APICTA dilaksanakan pada tanggal 23-24 November 2009. Semua acara dilaksanakan di Jakarta.

Kami segera mengkomunikasikan hal ini dengan pimpinan BPS, terutama masalah perizinan. Alhamdulillah kami mendapatkan dukungan. Akhirnya, saya sendiri berangkat ke Jakarta untuk mengikuti Briefing tahap 1 dan 2 karena waktunya berdekatan.

Briefing tahap 1 dilaksanakan di gedung Core Mediatech, Matraman, Jakarta. Panitia, dalam hal ini ASPILUKI dan Depkominfo memberikan penjelasan tentang APICTA, bagaimana perlombaan diselenggarakan serta pembagian kategori masing-masing peserta. Peserta diambil dari juara-juara INAICTA dan perlombaan lain yang telah diselenggarakan dalam waktu dekat seperti BubuAward dll. Pada briefing ini juga diberitahukan hal yang membuat peserta kecewa, yaitu peserta yang mau mengikuti APICTA harus dengan biaya sendiri, atau cari sponsor sendiri. Pihak Depkominfo hanya mau membiayai peserta yang masuk kategori Student Project. Panitia hanya bisa membantu membuatkan surat rekomendasi untuk digunakan dalam mencari sponsor.

Briefing tahap 2 dilakukan di gedung Depkominfo, disini panitia menegaskan kembali bahwa Depkominfo hanya mau membiayai pelajar dan mahasiwa saja. Selain itu harus dengan biaya sendiri, yang diperkirakan sekitar USD 1345 untuk tiket pesawat dan hotel saja. Tak pelak banyak peserta yang kecewa dan menyayangkan kebijakan Depkominfo ini. Di satu sisi, Depkominfo meminta peserta untuk berjuang mewakili Indonesia, tapi disisi lain peserta tidak didukung, dan dibiarkan kebingungan mencari dana/sponsor.

Kami sendiri juga sangat kecewa dengan kebijakan Depkominfo ini. Ini menunjukkan perhatian negara yang sangat kurang terhadap prestasi anak bangsa. Namun kami tidak langsung putus asa, kami masih tetap mengikuti prosedur untuk menjadi peserta APICTA seperti mengirimkan naskah formulir pendaftaran peserta, dan membuat proposal berisi deskripsi tentang Zaitun Time Series untuk diajukan ke juri APICTA. Walaupun dalam benak kami, kami juga masih bingung bagaimana caranya mendapatkan dana. Kami berfikir positif, seandainya pada waktu hari H pengumpulan dana, kami tidak mendapatkan dana/sponsor, terpaksa kami tidak jadi ikut, tapi paling gak proposal kami sudah masuk ke panitia APICTA, walaupun nantinya akan dicoret pada saat pelaksanaan, paling tidak sudah sedikit mengenalkan Zaitun Time Series ke juri.

Kami juga melaporkan hasil dari briefing ini ke pimpinan BPS, terutama masalah pendanaan. Saat itu pimpinan BPS memberitahukan kepada kami bahwa BPS tidak bisa membiayai keikutsertaan Zaitun Time Series ke APICTA karena tidak ada pos anggaran BPS untuk itu. Setelah mendengar hal tersebut, kami meminta izin untuk mencari sponsor sendiri.

Kami mencoba untuk mengajukan sponsor ke berbagai lembaga, diantaranya Microsoft Indonesia, Sampoerna Foundation, Bank Indonesia, dan Bursa Efek Jakarta via email, karena posisi kami yang jauh dari Jakarta. Kami juga meminta bantuan adik kelas di STIS untuk menghubungi secara langsung lembaga-lembaga tersebut. Namun karena waktu yang sudah terbatas, sampai beberapa minggu sebelum keberangkatan, belum ada jawaban dari mereka.

Kami juga menghubungi beberapa pegawai BPS  yang kami kenal untuk menceritakan tentang hal ini. Alhamdulillah meraka sangat mendukung kami untuk tetap berusaha mengikuti APICTA. Beberapa juga menawarakan untuk membantu untuk memberikan dana. Ada juga yang melontarkan ide untuk penggalangan dana. Kami menjadi lebih pede untuk melanjutkan usaha untuk tetap mengikuti APICTA.

Kami tetap mengikuti semua prosedur untuk menjadi peserta APICTA, termasuk mengikuti BootCamp yang diselenggarakan tanggal 23-24 November 2009 di Hotel Jayakarta, Jakarta. Kami juga mempersiapkan semua dokumen yang diperlukan termasuk pasport, serta dokumen-dokumen yang diperlukan untuk membuat visa.

Akhirnya, dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pimpinan BPS, kami bisa menyelesaikan masalah pendanaan. Ucapan terima kasih yang begitu besar kami sampaikan kepada Semua Pimpinan BPS, terutama Bp Rusman Heriawan, Bp Sihar Lumbantobing, Bp Arizal Ahnaf, Bp Sunari Sarwono serta pimpinan BPS lainnya. Ucapan terima kasih yang begitu besar juga kami ucapkan kepada Bp Suwantoro, Bp Sasmito Hadi Wibowo, Bp Muchammad Romzi, Ibu Titi kanti Lestari, Bp Dudi Syaifudin Sulaiman atas dukungan yang begitu besar terhadap kami. Tak lupa kepada semua pihak yang turut membantu sehingga Zaitun Time Series bisa mengikuti APICTA 2009.

Tanggal 30 November 2009, alhamdulillah semua urusan dana dan dokumen telah selesai kami urus. Kami selnjutnya kembali ke daerah, sambil menunggu keberangkatan ke Melbourne.

Tanggal 8 Desember kami mendapatkan pemberitahuan untuk mengikuti acara pelepasan delegasi Indonesia oleh Menkominfo pada hari Jum’at, 11 Desember 2009 di gedung Depkominfo. Kami juga mendapatkan pemberitahuan bahwa perwalkilan Zaitun Time Series akan diberangkatkan pada gelombang kedua pada hari Minggu 13 Desember 2009.

Hari Minggu, 13 Desember 2009 pukul 22.00 WIB di Terminal 2D Bandara Internasional Soekarno Hatta, perwakilan Zaitun Time Series, Rizal Zaini Ahmad Fathony, berangkat menuju Melbourne untuk mengikuti APICTA 2009 dengan pesawat Garuda Indonesia GA 106 Jakarta-Melbourne.

Tinggalkan sebuah Komentar

Perjalanan Zaitun Time Series menuju APICTA 2009 Melbourne (Part 1: INAICTA)

image Indonesia Information and Communication Technology Award (INAICTA) merupakan ajang tahunan berskala nasional yang diselenggarakan oleh Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) yang bertujuan untuk meningkatkan kreativitas para professional di bidang ICT, mendorong pemanfaatan dan pertumbuhan ICT di semua lini industri, juga mempersiapkan pelaku teknologi informasi lokal untuk menghadapi kompetisi global. Ajang ini terbuka bagi seluruh masyarakat Indonesia baik dari kalangan akademisi, praktisi, perusahaan, lembaga riset, ataupun perorangan. INAICTA tahun 2009 mengangkat tema “Digital Creative for National Building” dengan visi memposisikan ICT sebagagai variabel yang memungkinkan untuk dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia untuk meningkatkan martabat bangsa di dunia internasional.

Berikut ini adalah catatan perjalanan tim pengembang Zaitun Time Series dari awal mengikuti ajang INAICTA 2009 sampai akhirnya menjadi juara kategori Research and Development.

Tanggal 20 Februari 2009, Depkominfo melangsungkan acara launching perdana INAICTA 2009 diikuti dengan acara press conference dan pembukaan pendaftaran serta peluncuran website INAICTA di http://inaicta.web.id. Acara lauching ini kemudian diikuti dengan promosi dan publikasi melalui media massa baik cetak dan elektronik.

Pendaftaran INAICTA sendiri dibuka sampai tanggal 31 Mei 2009. Terdapat beberapa kategori pada ajang INAICTA yang dikelompokkan dalam 2 kelompok, professioal dan student. Untuk kelompok professional terdapat 10 kategori, beberapa diantaranya adalah e-Learning, open source dan research and development. Untuk mengikuti INAICTA, peserta diwajibkan membuat proposal hasil karyanya dan membayar biaya pendaftaran sebesar dua ratus ribu rupiah.

Kami mendapatkan informasi tentang ajang ini sekitar pertengahan bulan april dari internet. Kami merasa tertarik untuk mengikuti ajang tersebut. Saat itu kami masih mempersiapkan untuk me-release versi 0.1.4. Dengan mengetahui akan adanya ajang tersebut, kami berusaha untuk mempercepat pengembangan versi 0.1.4 untuk diajukan pada ajang tersebut. Alhamdulillah seminggu sebelum penutupan pendaftaran, kami bisa menyelesaikan versi 0.1.4 dan proposal untuk di-submit ke INAICTA 2009. Kami memutuskan untuk mensubmit pada kategori Research and Development, karena awal mula pengembangan Zaitun Time Series adalah dari penelitian untuk tugas akhir di STIS.

Total peserta yang masuk saat penutupan pendaftaran INAICTA sekitar 800 an peserta untuk keseluruhan kategori. seluruh peserta harus melalui dua tahap penjurian sebelum menjadi nominator penerima anugerah INAICTA 2009. Penjurian pertama berupa seleksi dari seluruh proposal yang masuk. Dari seluruh proposal yang masuk, dipilih kurang lebih 10 peserta untuk tiap kategori yang lolos penjurian tahap.

Hasil penjurian tahap pertama diumumkan tanggal 17 Juni 2009 Alhamdulillah, Zaitun Time Series menjadi satu dari 9 peserta yang lolos untuk kategori Research and Development dan kami diwajibkan mengikuti penjurian tahap dua yang diselenggarakan pada tanggal 3-4 Juli 2009 di Jakarta. Penjurian tahap berupa presentasi hasil karya dan tanya jawab dengan dewan juri. Penjurian dilakukan di gedung Fx, yang bertempat di samping Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Peserta yang lolos penjurian tahap pertama:

  1. Bahasa Pemrograman Nusaptel oleh Bernaridho Hutabarat
  2. Zaitun Time Series oleh Rizal Zaini Ahmad Fathony (BPS)
  3. Integrasi data online berbasis smart data-mining oleh Z. Akbar (LIPI)
  4. V-Track : Online Vihicles Tracking System oleh Andi Sunyoto (AMIKOM Yogyakarta)
  5. Log Kartu Pintar/RFID untuk Pemeliharaan Aset oleh I Gede Junidwaja
  6. BukuQ: Book Inventory Network oleh Fajar Endra Nusa
  7. Smart Telediagnosis oleh Tri Susanto
  8. 3D MODELING WITH VRML LANGUAGE oleh Ina Agustina
  9. Eye B Pod oleh Stanley Audrey (Bina Nusantara University)

Tanggal 28 Juni 2009 adalah hari bersejarah bagi saya, karena pada hari itu saya melangsungkan pernikahan dengan Lia Amelia, salah satu anggota tim pengembang Zaitun Time Series, di Palembang.

Tanggal 1 Juli 2009, masih dalam suasana bulan madu ;) , saya beserta istri berangkat dari Palembang ke Jakarta untuk memenuhi panggilan dari dewan juri untuk mengikuti penjurian tahap ke dua. Dari keseluruhan tim pengembang Zaitun Time Series, cuma kami (saya dan istri) yang bisa hadir, karena harus dengan biaya sendiri. Maklum teman-teman anggota tim tersebar di seluruh Indonesia.

image Suasana penjurian tahap 2

Penjurian tahap dua berlangsung hari jum’at 3 juli 2009. Presentasi dilakukan di ruangan kecil tertutup di depan 5 orang dewan juri. Satu per satu peserta dipanggil untuk mempresentasikan karyanya. Kami mendapatkan jatah presentasi jam 9.00 pagi. Alhamdulillah presentasi berjalan lancar. Beberapa pertanyaan dari dewan juri juga bisa kami jawab dengan baik. Kurang lebih jam 09.45 presentasi dari kami selesai. Giliran peserta lain yang mempresentasikan karyanya.

Kami (saya dan istri) masih berada di Jakarta sembari menunggu pengumuman penjurian tahap ke dua. Sembari menunggu pengumuman dengan harap-harap cemas, kami memenfaatkan waktu untuk sekedar jalan-jalan di Jakarta.

Tanggal 5 Juli 2009 pagi pengumuman hasil penjurian tahap kedua sudah bisa dilihat di website INAICTA. Alhamdulillah Zaitun Time Series menjadi salah satu dari 5 peserta yang lolos penjurian tahap dua dan menjadi nominator INAICTA 2009. Kami sangat bahagia melihat kabar itu, pengorbanan kami ke Jakarta tidak sia-sia. 

Nominator kategori Research and Development INAICTA 2009:

  1. Bahasa Pemrograman Nusaptel oleh Bernaridho Hutabarat
  2. Zaitun Time Series oleh Rizal Zaini Ahmad Fathony (BPS)
  3. Integrasi data online berbasis smart data-mining oleh Z. Akbar (LIPI)
  4. V-Track : Online Vehicles Tracking System oleh Andi Sunyoto (AMIKOM Yogyakarta)
  5. Eye B Pod oleh Stanley Audrey (Bina Nusantara University)

Setelah semua urusan di Jakarta selesai saya dan istri langsung melanjutkan perjalanan ke kampung halaman saya (Wonogiri) sekaligus untuk mengenalkan istri saya ke keluarga besar saya di Wonogiri (saat itu kami masih dalam masa cuti nikah). Setelah kami selesai cuti nikah, kami harus berpisah, karena saya harus kembali bekerja di Riau, dan istri bekerja di Sumatera Selatan.

Tanggal 20 Juli 2009 kami mendapatkan info dari panitia INAICTA, bahwa semua nominator diwajibkan membuat stand pada saat ajang Pameran INAICTA 2009 tanggal hari selasa-rabu, 28-29 Juli 2009. Seluruh peserta diminta menghadiri briefing pada hari kamis 23 Juli 2009 di gedung Depkominfo di Jakarta. Saat itu kami sudah kembali bekerja di BPS daerah (Riau dan Sumsel). Kami sempat merasa keberatan dengan hal tersebut, mengingat lokasi kami yang jauh dari Jakarta. Namun karena tekad kami sudah bulat untuk terus mengkuti ajang ini, kami tetap mengusahakan untuk bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya. Akhirnya, kami meminta bantuan dari beberapa adik kelas yang masih kuliah di STIS untuk menghadiri briefing stand pameran dan membantu pembuatan stand.

Hari Sabtu tanggal 25 Juli 2009, setelah meminta izin dari kepala kantor masing-masing, saya dan istri berangkat ke Jakarta untuk mempersiapkan stand Zaitun Time Series. Sekali lagi, diantara anggota tim pengembang Zaitun Time Series cuma saya dan istri yang bisa hadir karena harus dengan biaya sendiri. Kami berencana mengisi stand dengan spanduk, pamflet, leaflet, buku petunjuk pengunaan dan buku promosi tentang Zaitun Time Series. Tak lupa kami sediakan juga laptop yang sudah terinstal aplikasi Zaitun Time Series yang bisa dicoba-coba oleh pengunjung stand. Kami meminta bantuan beberapa adik kelas di STIS untuk membantu mempersiapkannya.

image Stand Zaitun Time Series

Hari Selasa pagi tanggal 28 Juli 2009 stand kami sudah siap. Pameran INAICTA yang dilaksanakan di Jakarta Convention Center (JCC) dibuka oleh panitia. Selain stand-stand dari para nominator masing-masing kategori, terdapat juga serangkaian kegiatan seperti, seminar, workshop, kompetisi robot dan kompetisi game. Namun demikian, jumlah pengunjung masih terasa sepi, mungkin karena bukan hari libur. Beberapa pengunjung ada yang mapir ke stand kami. Kami telah mempersiapkan leaflet, booklet serta kartu nama yang bisa diambil cuma-cuma. Tak lupa bagi pengunjung yang berminat mencoba Zaitu Time Series kami menyediakan satu buah laptop yang bisa dipakai.

Pameran INAICTA selesai pada hari rabu, 29 Juli 2009 sore pukul 5.00. Secara keseluruhan acara berlangsung lancar. Namun jumlah pengunjung masih kurang. Kedepan mungkin pihak Depkominfo harus lebih gencar dalam mempromosikan. Kami segera membereskan stand kami dan kemudian segera mempersiapkan diri, karena habis maghrib acara puncak malam penganugerahan INAICTA 2009 akan dibuka.

Setelah makan malam, semua peserta pameran INAICTA masuk ke ruang Assembly JCC, tempat dimana penganugerahan akan dilakukan. Acara dibuka dengan penampilan artis, kemudian sambutan dari panitia dan Menteri Komunikasi dan Informatika, Muhammad Nuh. Selanjutnya ditampilkan semua nominator untuk ke semua kategori, baik di kelompok student ataupun professional. Penampilan dari artis menyelingi acara-acara pada malam itu.

Acara yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, pengumuman juara untuk masing-masing kategori INAICTA 2009. Pengumuman terbagi dalam 3 sesi. Sesi pertama untuk kelompok student, disusul 5 kategori pertama kelompok professional, dan 5 kategori kedua. Diantara sesi-sesi diselingi dengan penampilan artis. Akhirnya pada sesi ketiga, kategori Research and Developmnet diumumkan, dimulai dengan menyebut ke semua nominator kategori. Saat itu hati kami berdegup kencang, penasaran dan harap-harap cemas, apakah kami menjadi salah satu yang disebut oleh pembawa acara. Selanjutnya diumumkan penerima penghargaan Merit (juara 2) kategori Research and Development yaitu Eye B Pod oleh Stanley Audrey dari Universitas Bina Nusantara. Selanjutnya diumumkan Winner untuk kategori Research and Development, hati kami berdegup kencang. Dan “Zaitun Time Series oleh Rizal Zaini Ahmad Fathony” di ucapkan oleh pembawa acara. Tak pelak, kami langsung berteriak kegirangan, kami tak menyangka bisa meraih prestasi level nasional ini.

Kami diminta maju ke depan bersama pemenang kategori lain untuk menerima piala dan piagam penghargaan. Selanjutnya menkominfo memberikan sedikit wejangan. Setelah selesai, para peserta kemudian melakukan foto-foto bersama. Tak lupa, kami juga memanfaatkan kesempatan langka itu untuk foto bersama Menkominfo Muhammad Nuh. Kami juga bertemu dengan pakar informatika Onno W Purbo, kesempatan itu tidak kami sia-siakan. Kami mengajak pak Onno untuk foto bareng kami sambil memegang piala dan piagam penghargaan.

imageFoto bareng Menkominfo

Setelah selesai semua acara, sebelum pulang, kami menemui panitia untuk mengambil hadiah berupa uang pengembangan. Kami diberi amplop berisi cek tunai yang bisa segera dicairkan. Ketika kami lihat isinya, kami sangat bersyukur karena nilai hadiahnya lumayan besar, sehingga biaya yang kami keluarkan seperti dua kali transportasi perjalanan Riau-Jakarta dan Palembang-Jakarta, biaya pembuatan stand, dll bisa tertutupi dan masih ada sisa yang lumayan.

Kami menyadari bahwa hasil ini bukan merupakan akhir dari usaha kami, namun menjadi awal dari pengembangan Zaitun Time Series lebih lanjut. Kami berharap bahwa Zaitun Time Series bisa bisa bermanfaat bagi banyak orang di seluruh dunia. Kami juga berharap Zaitun Time Series bisa dimanfaatkan di instansi tempat kami bekerja, Badan Pusat Statistik (BPS), bahkan bisa dikembangkan lebih lanjut di BPS, sehingga pemanfaatannya bisa lebih terasa di BPS.

Rizal Zaini Ahmad Fathony
Ketua Tim Pengembang Zaitun Time Series

Tinggalkan sebuah Komentar

Zaitun Time Series Menjadi Winner Inaicta 2009, Kategori Research and Development

Alhamdulillah..
Hari Rabu Malam tgl 29 Juli 2009, Juara-juara INAICTA 2009 diumumkan pada acara puncak malam penganugrahan INAICTA 2009 (Indonesia ICT Award 2009). Pengumuman dimulai dari kelompok student, lomba robot, dan project untuk student. Selanjutnya diumumkan juara dari kalangan professional, mulai kategori e-Government, e-Enterprise,…. sampai akhirnya diumumkan kategori Research and Development.
Dimulai dengan menyebut semua nominator di kategori Research and Development (5 nominator). Selanjutnya disebutkanlah Zaitun Time Series sebagai pemenang dari kategori Research and Development. Seneng dan bangga rasanya mendapatkan gelar juara. Ga nyangka juga pada awalnya, karena empat nominator lainnya sangat hebat dan inovasinya ga diragukan lagi.

Setiap pemenang dari setiap kategori mendapatkan piala, piagam, dan hadiah berupa uang. Alhamdulillah, kemenangan ini insyaAllah menjadi pemicu untuk terus bersemangat mengembangkan Zaitun Time Series.

Malam penganugerahan pun diakhiri dengan pidato penutup dari Bapak Muhammad Nuh, Menkominfo, sekaligus foto2 bareng juara plus bareng Bapak Nuh. lumayan bisa foto2 bareng mentri. Seyogyanya, dulu pernah diinformasikan lewat website Inaicta 2009 bahwa pemenang lomba akan diajukan ke kompetisi serupa se Asia Pasifik. Tapi sayang, pengajuan ini belum bisa diputuskan dan dipastikan. Yah doakan saja kalau pemenang dari Indonesia bisa mengajukan hasil karyanya ke kompetisi serupa tingkat Asia Pasifik.

Alhamdulillah, tak henti-hentinya bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT melalui award ini. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman di time series team (Bowo, Wawan, Fuad, Alma, Risma) yang telah berkontribusi dalam pembuatan dan pengembangan Zaitun Time Series; istriku tercinta (Lia Amelia) yang telah setia menemani dan mensupportku; Bapak Ibu Dosen di STIS (Bp. Muchammad Romzi, Bp Firdaus, Bp Sasmito Hadi Wibowo, Ibu Budiasih, Ibu Titik Kanti) yang turut membantu pengembangan; Temen2 seperjuangan di STIS angkatan 45 khususnya temen2 KS45; Sabit, Irfan, Zahid, Eko atas bantuannya menyukseskan acara pameran dan membantu membuat stand di pameran INAICTA; serta kepada semua pihak yang telah membantu, memberi support baik materil maupun immateril.

Bravo Zaitun Time Series!!foto bareng pak ono habis penghargaan

Komentar (2)

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Bismillahirrahmaanirrahiim…
Dengan memohon ridho Allah SWT
Kami bermaksud menyelenggarakan pernikahan:

Lia Amelia
Puteri Pasangan Bapak Drs. H. Rusydi Hasir Syukri (almarhum) dan Ibu Fariko

dengan

Rizal Zaini Ahmad Fathony
Putera Pasangan Bapak Muhajir dan Ibu Sumartini

Akad Nikah dan Resepsi Insya Allah akan dilaksanakan pada:
Ahad, 28 Juni 2009 pukul 08.00 – 14.00
di Jl Swadaya, Lorong Perikanan V No 106, Sekip Ujung, Palembang.

Yang berbahagia,
Lia & Rizal
Keluarga Besar Bapak Muhajir (Wonogiri)
Keluarga Besar Bapak Drs. H. Rusydi Hasir Syukri (almarhum) (Palembang)

Mohon do’a restu.
Lia & Rizal

undangan depan
undangan isi
undangan isi


View Larger Map

Komentar (23)

What’s wrong with ‘13′?

Ada satu hal yang menggelitik pada perjalananku kemaren ke Jakarta.
Pertama. Aq naik pesawat Mandala untuk rute Pekanbaru-Jakarta. Kulihat di boarding pass ku tertulis 14A sebagai posisi tempat duduk ku di pesawat. But, ketika aq nyari tempat dudukku, ada yang aneh. Ternyata baris tempat duduk 14 berada setelah baris tempat duduk ke 12. kemanakah no 13?

Kedua, pas aq di salah satu apartemen di Jakarta. Saat naik lift di apartemen tersebut, kulihat no2 lantai yg tertera di lift. Ternyata setelah lantai ke 12, bukan lantai ke 13, tapi 12A, setelah itu laitai 14. Tidak ada lantai ke 13.

Aq bertanya, apa yang salah dengan angka 13?

Komentar (18)

Ngeblog lagi aah.

Waah. udah lama g ngeblog nih. maklum lg sok sibuk. skarang ngeblog dulu ah. biar blognya ada isinya.

Komentar (5)

24 Maret 2009

24 Maret 2009.
Ya, itulah tanggal masehi untuk hari ini.
23 tahun yang lalu, lahirlah seorang anak kecil yang sangat diharapkan oleh orang taunya, di sebuah kota kecil nun jauh disana.
23 tahun telah berlalu anak kecil itu menempuh kehidupan dengan segala warnanya, melalui lorong-lorong kehidupan, warna-warna kehidupan, senang, sedih, bahagia, sengsara, suka, duka.
23 tahun telah berlalu, sudahkah anak kecil itu mempelajari derasnya kehidupan? sudahkah anak kecil itu belajar dari pengalaman? yang menuntunnya menjadi manusia sesungguhnya.
23 tahun telah berlalu, sudahkah anak kecil itu memberikan manfaat bagi sekitarnya, menjadi yang selalu memeri arti bagi orang lain.
23 tahun telah berlalu, sudahkah anak kecil itu berbakti kepada dua orang tua yang selalu merindukannya, sudahkah menjadi teladan bagi adiknya.
23 tahun telah berlalu, sudahkah anak kecil itu lebih mendekatkan diri pada sang penciptanya?
23 tahun telah berlalu……..


anak kecil itu, 23 tahun yang lalu diberi nama Rizal Zaini Ahmad Fathony oleh kedua orang tuanya.

Komentar (7)

Makan… makan… makan.. Di acara ratek

Hari ini, hari pertama ratek. Seperti biasa makan malam di tempat makan hotel jam 7. Aku bersama temenku masuk ke tempat makan itu. Temenku langsung mengambil nasi dan lauk. Sedangkan aku berkeliling dulu melihat2 makanan. Dan ternyata. waaah cm ada nasi, krupuk dan buah (sudah di filter where makanan yg aq mau). aku melihat2 sebentar. akhirnya kuputuskan ke penjaga hotelnya.
‘mbak, bisa minta dadar telur’ kataku ke mbaknya.
Mbak penjaganya g langsung menjawab, tapi nanya ke temennya dulu.
‘Mas, kalau mau dadar telur kena cash lagi. soalnya panitia cuma menyediakan ini. kalau mau mas kena cash lagi’ begitu kira2 penjaga hotelnya berkata.

‘Aah, pelayanan tidak memuaskan’ gumanku. Aku langsung menghubungi panitia yang kebetulan ada di depan ruang makan. dan aku menceritakan yg tadi ke panitia.
Akhirnya salah satu panitia menghubungi penjaga tempat makannya, menjelaskan bahwa makanan untuk ku akan ditanggung panitia. dan kemudian merequest makanan kesukaanku, TEMPE dan TELUR DADAR, ke koki nya.
siip, aku menunggu beberapa waktu, dan akhirnya…
Taaaadaaaa, makanan kesukaanku tersaji, hmm, nyam-nyam, enaknya. :p

Komentar (10)

Tulisan yang Lebih Tua »